- Back to Home »
- 2014 , Fuyu Yasumi »
- Ski & Snowboard Bersama PMIJ 2014
Posted by : Unknown
Tuesday, 6 January 2015
![]() |
| Selfie wajib sebelum berangkat |
Pada tanggal 26-28 Desember, seperti tahun-tahun sebelumnya diadakan kegiatan
ski bersama PMIJ yang merupakan kependekan dari Persaudaraan Muslim Indonesia
Jepang. Sama seperti beberapa kegiatan sebelumnya seperti fuji nobori atau
momiji di gunung Takao, meskipun pmij adalah organisasi berlandaskan agama
Muslim, tetapi siapapun boleh mengikuti kegiatan ini. Tahun ini, meskipun tidak
semua, tapi sebagian besar dari 鷲桜, mengikuti program ini. Biaya
untuk tahun ini 20500yen yang mencakup : Sewa peralatan ski/snowboard, tiket
lift, akomodasi, transportasi, dan makan.
Tanggal 26 Desember pukul 10.00 kami berkumpul di stasiun
Shinjuku. Yang waktu itu cukup mengejutkan adalah ketepatan waktu semua peserta
untuk berkumpul pada jamnya (yang mana harus dipertahankan untuk menghapus
stereotype ‘jam karet’ orang Indonesia). Lalu pada pukul 11.00 kami naik bis
yang disewa hanya untuk peserta ski pmij.
27 Desember, sekitar pukul 5.30, kami tiba di nagano (ニュー河内屋ホテルyang merupakan 旅館/ hotel bergaya Jepang yang
berada di 大町市, 長野県/Kota Oomachi, prefektur Nagano).
Untuk pertama kalinya saya melihat salju secara live dengan mata kepala saya
sendiri. Hal yang cukup ditunggu-tunggu (sebagaimana korban negara tropis), dan
yah, image salju tidak semenarik yang saya bayangkan. Pernah lihat es yang
menumpuk di freezer kan? Nah, gambaran itu yang sepertinya paling cocok dengan
salju. Salju yang baru saja turun memang terasa empuk, tapi yang sudah lama turun,
keras seperti es batu (Ga heran titanic tenggelam setelah nabrak iceberg).
Impresi lainnya? Dingin dan basah. Setelah sholat bagi yang beragama muslim dan
makan pagi, dan menitipkan barang-barang yang tidak digunakan selama ski, kami
menuju ke tempat ski yang berjarak sekitar 20 menit via
bus.
![]() |
| 雪 |
Ski

Pernah
lihat Tony Stark dalam sepatu Iron-Mannya (Atau Iron-man saat menuruni tangga)?
Yap, mungkin itulah analogi yang cocok untuk sepatu ski. Sepatu ski kaku
sehingga sulit digunakan untuk jalan. Sepatu itu memiliki sistem khusus supaya bisa terkait di papan ski. Setelah
pemanasan, latihan dasar untuk ski dilakukan. Hal yang pertama dipelajari lagi
adalah, es itu licin! Oleh karena itu cara jalan saat menggunakan papan ski
berbeda. Jalan dilakukan dengan membentuk huruf v, atau menyamping.
Pelajaran selanjutnya adalah jatuh!
Iya, cara untuk jatuh itu penting karena menentukan apakah akan terjadi cedera,
dan cara untuk berdiri kembali. Berikutnya, mengerem. Mungkin ada yang berpikir
guna dari tongkat ski adalah untuk mengerem. Saat meluncur pelan mungkin saja,
tapi saat kecepatan tinggi, tidak mungkin. Jadi, bagaimana untuk mengerem?
Dengan membentuk huruf A. Setelah dirasa cukup mampu, tantangan selanjutnya
adalah naik lift lalu meluncur. Jangankan meluncur, untuk turun dari lift saja
sudah jatuh, sampai dimarahi oleh kakek2 penjaga lift, hahaha. Setelah beberapa
kali jatuh bangun, akhirnya, saya sudah mulai terbiasa. Saat sudah bisa
meluncur rasanya seru sekali.
Sekitar pukul 16.30, setelah
berganti baju, kami berkumpul untuk kembali ke hotel. Yang cukup melelahkan
waktu itu adalah harus menunggu bis dari tempat ski. Selain karena sudah lelah
bermain ski, rasa dingin yang menusuk, barang bawaan (papan ski, dsb), dan juga
antrian yang sangat panjang.
Snowboard
Berbeda dengan ski, snowboard menggunakan sepatu salju yang cukup nyaman saat dipakai berjalan. Rasanya sepatu itu juga bisa dipakai untuk sekedar bermain di salju. Sepatu itu dikaitkan ke papan snowboard dan kami bisa meluncur.
Sama seperti ski, kami juga melakukan pemanasan. Pelajaran pertama adalah mengikatkan kaki ke papan snowboard. Tidak seperti ski, setiap kali turun dari lift, pemakai snowboard harus memasangkan kaki, dan sesampainya di bawah, kami harus kembali melepas ikatan pada sepatu (kalau tidak, kami benar-benar tidak bisa berjalan kan?). Pelajaran kedua adalah meluncur dengan 1 kaki terikat pada papan. Keterampilan ini diperlukan saat turun dari lift.
Setelah mulaimahir terbiasa, kami diperbolehkan menaiki lift. Sampai di atas, waktunya untuk pelajaran selanjutnya, meluncur sambil mengerem dan pelajaran untuk jatuh. Berbeda dengan ski, untuk mengerem snowboard yang dilakukan adalah bertumpu pada tumit, sehingga berat tubuh ke belakang, dan papan mengikis salju. Kedengarannya mudah, namun praktek seringkali lebih sulit daripada teori. Belasan kali kami jatuh sebelum dapat turun dengan mulus.
Pulang bersamaan dengan grup ski, kami juga pulang dengan sakit di sekujur tubuh.
Berbeda dengan ski, snowboard menggunakan sepatu salju yang cukup nyaman saat dipakai berjalan. Rasanya sepatu itu juga bisa dipakai untuk sekedar bermain di salju. Sepatu itu dikaitkan ke papan snowboard dan kami bisa meluncur.
Sama seperti ski, kami juga melakukan pemanasan. Pelajaran pertama adalah mengikatkan kaki ke papan snowboard. Tidak seperti ski, setiap kali turun dari lift, pemakai snowboard harus memasangkan kaki, dan sesampainya di bawah, kami harus kembali melepas ikatan pada sepatu (kalau tidak, kami benar-benar tidak bisa berjalan kan?). Pelajaran kedua adalah meluncur dengan 1 kaki terikat pada papan. Keterampilan ini diperlukan saat turun dari lift.
Setelah mulai
Pulang bersamaan dengan grup ski, kami juga pulang dengan sakit di sekujur tubuh.
和食
![]() |
Setibanya di hotel, kamar pun dibagi. Satu kamar saya saat itu 6 orang. Karena hotel new kawachiya adalah ryokan, kamar berisikan tatami dan screen door. Setelah beristirahat dan mandi, kami berkumpul kembali untuk makan malam.
![]() |
| 旅館 |
Makan malam saat itu dengan
makanan ala Jepang/ washoku. Oleh penjaga hotel, kami diajari cara makan
(urutan makan, fungsi dan nama setiap masakan) makanan Jepang yang baik dan
benar. Yang luar biasa idonesiarashii, adalah meminta tambahan nasi sampai
tante2 penjaga hotel yang tadinya keliling untuk menambahkan nasi dengan
membawa rice cooker kecil, mengambil rice cooker besar, dan berhenti
berkeliling.白馬鹿島やリスキー場
![]() |
| Selfie wajib perjalanan pulang |
Pukul 16.00 kami mulai
mengembalikan barang sewaan. Hal yang lagi-lagi mengejutkan adalah cara
mengembalikan peralatan maupun pakaian ski. Kami hanya perlu menyerahkan dan
tanpa didata nama penyewa (Kalau mereka buka bisnis ski di Indonesia mungkin akan
cepat bangkrut karena barang sewaan dibawa pulang penyewa atau rusak oleh
penyewa). Akhirnya pada pukul 17.00 kami
naik bis untuk kembali ke Tokyo. Sampai di Tokyo pada sekitar pukul 21.30,
dan berpisah ke tempat tinggal masing-masing.
Life Lessons
Supaya
tidak seperti cerita yang kosong atau perjalanan untuk bersenang-senang
saja, berikut beberapa pelajaran yang bisa diambil:
1. Es itu licin
2. Jam karet tampaknya
sudah menjadi bagian dari orang Indonesia, sehingga saat mengatur jadwal harus memperhitungkan
jam karet tersebut, mari kita rubah!
3. Hidup itu kurang lebih seperti main ski.
Berkali-kali jatuh, tetap harus bangun! Cara jatuh itu penting untuk bangun kembali,
makanya di kehidupan juga kita seringkali tidak memikirkan plan B atau
bagaimana rencana utama kita akan gagal, sehingga saat jatuh, tidak tahu cara
untuk bangun kembali.
4. Saat mengembalikan peralatan ski, kita dipercaya
oleh penyedia bahwa kita akan mengembalikan. Ayo belajar menjaga kepercayaan
dan bertanggung jawab.






.jpg)
halo mas... mau tny donk...sy mau ke hakuba januari 2016, sudah booking hotel tp ga tau soal sewa alat trus gondola dllnya gmn ya? trims yaa
ReplyDelete