Posted by : Unknown Tuesday, 6 January 2015


Selfie wajib sebelum berangkat
              Pada tanggal 26-28 Desember, seperti tahun-tahun sebelumnya diadakan kegiatan ski bersama PMIJ yang merupakan kependekan dari Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang. Sama seperti beberapa kegiatan sebelumnya seperti fuji nobori atau momiji di gunung Takao, meskipun pmij adalah organisasi berlandaskan agama Muslim, tetapi siapapun boleh mengikuti kegiatan ini. Tahun ini, meskipun tidak semua, tapi sebagian besar dari washizakura, mengikuti program ini. Biaya untuk tahun ini 20500yen yang mencakup : Sewa peralatan ski/snowboard, tiket lift, akomodasi, transportasi, dan makan.

Tanggal 26 Desember pukul 10.00 kami berkumpul di stasiun Shinjuku. Yang waktu itu cukup mengejutkan adalah ketepatan waktu semua peserta untuk berkumpul pada jamnya (yang mana harus dipertahankan untuk menghapus stereotype ‘jam karet’ orang Indonesia). Lalu pada pukul 11.00 kami naik bis yang disewa hanya untuk peserta ski pmij.
27 Desember, sekitar pukul 5.30, kami tiba di nagano (ニュー(nyuu)河内屋(kawachiya)ホテル(hoteru)yang merupakan 旅館(ryokan)/ hotel bergaya Jepang yang berada di 大町市(oomachishi), 長野県(naganoken)/Kota Oomachi, prefektur Nagano). Untuk pertama kalinya saya melihat salju secara live dengan mata kepala saya sendiri. Hal yang cukup ditunggu-tunggu (sebagaimana korban negara tropis), dan yah, image salju tidak semenarik yang saya bayangkan. Pernah lihat es yang menumpuk di freezer kan? Nah, gambaran itu yang sepertinya paling cocok dengan salju. Salju yang baru saja turun memang terasa empuk, tapi yang sudah lama turun, keras seperti es batu (Ga heran titanic tenggelam setelah nabrak iceberg). Impresi lainnya? Dingin dan basah. Setelah sholat bagi yang beragama muslim dan makan pagi, dan menitipkan barang-barang yang tidak digunakan selama ski, kami menuju ke tempat ski yang berjarak sekitar 20 menit via bus.
                Sekitar pukul 8.00, kami tiba di tempat ski yaitu 白馬(hakuba)鹿島(kashima)(yari)スキー場(suki-jou). Untuk pertama kalinya saya memperhatikan salju yang jatuh dan melihat bentuk kristal salju seperti yang terlihat dibawah mikroskop. Cantik. Hal yang disayangkan adalah tidak bisa difoto dengan kamera handphone saya. Setelah menyewa peralatan ski dan berganti baju, kami dipecah sesuai program ski/snowboard.

Ski

                Pernah lihat Tony Stark dalam sepatu Iron-Mannya (Atau Iron-man saat menuruni tangga)? Yap, mungkin itulah analogi yang cocok untuk sepatu ski. Sepatu ski kaku sehingga sulit digunakan untuk jalan.  Sepatu itu memiliki sistem khusus supaya bisa terkait di papan ski. Setelah pemanasan, latihan dasar untuk ski dilakukan. Hal yang pertama dipelajari lagi adalah, es itu licin! Oleh karena itu cara jalan saat menggunakan papan ski berbeda. Jalan dilakukan dengan membentuk huruf v, atau menyamping.
                Pelajaran selanjutnya adalah jatuh! Iya, cara untuk jatuh itu penting karena menentukan apakah akan terjadi cedera, dan cara untuk berdiri kembali. Berikutnya, mengerem. Mungkin ada yang berpikir guna dari tongkat ski adalah untuk mengerem. Saat meluncur pelan mungkin saja, tapi saat kecepatan tinggi, tidak mungkin. Jadi, bagaimana untuk mengerem? Dengan membentuk huruf A. Setelah dirasa cukup mampu, tantangan selanjutnya adalah naik lift lalu meluncur. Jangankan meluncur, untuk turun dari lift saja sudah jatuh, sampai dimarahi oleh kakek2 penjaga lift, hahaha. Setelah beberapa kali jatuh bangun, akhirnya, saya sudah mulai terbiasa. Saat sudah bisa meluncur rasanya seru sekali.

                Sekitar pukul 16.30, setelah berganti baju, kami berkumpul untuk kembali ke hotel. Yang cukup melelahkan waktu itu adalah harus menunggu bis dari tempat ski. Selain karena sudah lelah bermain ski, rasa dingin yang menusuk, barang bawaan (papan ski, dsb), dan juga antrian yang sangat panjang.


Snowboard
                Berbeda dengan ski, snowboard menggunakan sepatu salju yang cukup nyaman saat dipakai berjalan. Rasanya sepatu itu juga bisa dipakai untuk sekedar bermain di salju. Sepatu itu dikaitkan ke papan snowboard dan kami bisa meluncur.
                Sama seperti ski, kami juga melakukan pemanasan. Pelajaran pertama adalah mengikatkan kaki ke papan snowboard. Tidak seperti ski, setiap kali turun dari lift, pemakai snowboard harus memasangkan kaki, dan sesampainya di bawah, kami harus kembali melepas ikatan pada sepatu (kalau tidak, kami benar-benar tidak bisa berjalan kan?). Pelajaran kedua adalah meluncur dengan 1 kaki terikat pada papan. Keterampilan ini diperlukan saat turun dari lift.
                 Setelah mulai mahir terbiasa, kami diperbolehkan menaiki lift. Sampai di atas, waktunya untuk pelajaran selanjutnya, meluncur sambil mengerem dan pelajaran untuk jatuh. Berbeda dengan ski, untuk mengerem snowboard yang dilakukan adalah bertumpu pada tumit, sehingga berat tubuh ke belakang, dan papan mengikis salju. Kedengarannya mudah, namun praktek seringkali lebih sulit daripada teori. Belasan kali kami jatuh sebelum dapat turun dengan mulus.
                Pulang bersamaan dengan grup ski, kami juga pulang dengan sakit di sekujur tubuh.

和食(washoku

                Setibanya di hotel, kamar pun dibagi. Satu kamar saya saat itu 6 orang. Karena hotel new kawachiya adalah ryokan, kamar berisikan tatami dan screen door. Setelah beristirahat dan mandi, kami berkumpul kembali untuk makan malam. 

旅館
                Makan malam saat itu dengan makanan ala Jepang/ washoku. Oleh penjaga hotel, kami diajari cara makan (urutan makan, fungsi dan nama setiap masakan) makanan Jepang yang baik dan benar. Yang luar biasa idonesiarashii, adalah meminta tambahan nasi sampai tante2 penjaga hotel yang tadinya keliling untuk menambahkan nasi dengan membawa rice cooker kecil, mengambil rice cooker besar, dan berhenti berkeliling.

白馬鹿島やリスキー場
Selfie wajib perjalanan pulang
                Meskipun ini pertama kalinya saya ski, tapi menurut saya tempat ini bagus untuk ski karena memiliki berbagai macam arena dari yang khusus pemula sampai yang jago. Selain itu ada arena untuk ski/snowboard di malam hari. Waktu itu, pada hari kedua, walaupun masih pemula, karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, beberapa dari kami juga mencoba trek menengah. Pada hari kedua juga beberapa dari kami yang masih pemula ini mencoba untuk balapan, hahaha.
                Pukul 16.00 kami mulai mengembalikan barang sewaan. Hal yang lagi-lagi mengejutkan adalah cara mengembalikan peralatan maupun pakaian ski. Kami hanya perlu menyerahkan dan tanpa didata nama penyewa (Kalau mereka buka bisnis ski di Indonesia mungkin akan cepat bangkrut karena barang sewaan dibawa pulang penyewa atau rusak oleh penyewa). Akhirnya pada pukul 17.00 kami naik bis untuk kembali ke Tokyo. Sampai di Tokyo pada sekitar pukul 21.30, dan berpisah ke tempat tinggal masing-masing.
Life Lessons
                Supaya tidak seperti cerita yang kosong atau perjalanan untuk bersenang-senang saja, berikut beberapa pelajaran yang bisa diambil:
1.      Es itu licin
2.    Jam karet tampaknya sudah menjadi bagian dari orang Indonesia, sehingga saat mengatur jadwal harus memperhitungkan jam karet tersebut, mari kita rubah!
3. Hidup itu kurang lebih seperti main ski. Berkali-kali jatuh, tetap harus bangun! Cara jatuh itu penting untuk bangun kembali, makanya di kehidupan juga kita seringkali tidak memikirkan plan B atau bagaimana rencana utama kita akan gagal, sehingga saat jatuh, tidak tahu cara untuk bangun kembali.
4.    Saat mengembalikan peralatan ski, kita dipercaya oleh penyedia bahwa kita akan mengembalikan. Ayo belajar menjaga kepercayaan dan bertanggung jawab.

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. halo mas... mau tny donk...sy mau ke hakuba januari 2016, sudah booking hotel tp ga tau soal sewa alat trus gondola dllnya gmn ya? trims yaa

    ReplyDelete

- Copyright © INA Monbukagakusho College of Technology - Skyblue Template - Powered by Blogger -